Friday, January 23, 2015

2015.. kembali

2015... akhirnya tiba...
2014 telah berlalu dan membawa kesan yang mendalam.
Banyak hal dilalui. Tahun 2014 saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun bukan di jurusan yang sama seperti sebelumnya. 2014 juga merupakan tahun-tahun penuh pergolakan. Di tahun ini saya memutuskan untuk ikut tes CPNS di salah satu instansi. Mobilitas pun menjadi cukup tinggi di tahun ini, harus bolak-balik Dompu-Jakarta-Dompu untuk mengikuti setiap jenjang tesnya. 2014 juga merupakan tahun penuh kesedihan. Saya kehilangan teman yang sudah seperti saudara. Iya, Mbak Arie memutuskan untuk resign demi melanjutkan impian nya untuk menjadi seorang istri. Bahagia mendengarnya, namun terselip rasa sedih. Hari-hari awal kepergiannya, rasa sepi itu begitu terasa. Terkadang saya suka menangis sendiri dalam kamar kost. Memandangi setiap sudut demi sudut yang tadinya terisi oleh barang-barangnya kini menjadi kosong. Kami sudah menjalani 2 tahun 8 bulan bersama sebagai sesama perantau, membuat hubungan kami kian erat. Ini menyadarkan saya bahwa untuk kesekian kalinya saya harus kehilangan orang-orang yang ibaratnya merintis project bersama-sama dari titik nol. Hilang lagi satu penguat keberadaan saya di Dompu ini.

Ada yang pergi, ada pula yang datang. Begitulah siklus kehidupan. Muncul wajah-wajah baru maupun wajah lama dengan rasa baru. Tapi tetap saja, tidak akan sama rasanya seperti yang dulu. Aroma-aroma keberpihakan mulai tercium.. Ah,, saya muak sebenarnya berada di dalam sini. Disatu sisi begini, disisi lain begitu. Halooooo.. ini bukan tempat mencari koalisi.. tapi tempat untuk belajar menghargai. Ini membuat saya kembali berpikir dua kali. Memutuskan untuk bertahan atau pergi.

Saya benci.. dan saya ingin kembali... 

Monday, August 11, 2014

Forgive me!

Masih dalam suasana Syawwal, izinkan saya mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum, Minal Aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin untuk kawan lama, teman terbaik yang pernah mewarnai hidup saya.

Saya tak pernah sedikitpun melupakan kebersamaan yang telah kita lewati bersama. Saya selalu mengingat kebaikan-kebaikan anda, meskipun rasanya tidak akan sama seperti dulu. Saya tahu, bahwa dosa saya pada anda tidak akan mungkin terlupakan oleh anda, dan mungkin hal itu membuat hati anda tersakiti.

Saya lebih memilih untuk menuliskannya disini. Di ruang yang sedari awal saya khususkan untuk berbagi semua rasa yang pernah ada, senang, bahagia, sedih, pilu, susah dsb. Saya tidak berani mengucapkan nya secara langsung karena saya takut. Takut bila nanti akan kembali melukai anda. Takut bila nanti hanya mengingatkan kembali rasa sakit yang anda alami.

Jika pun saya menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi, pun anda tidak akan lagi peduli. Namun biarlah..

Sekali lagi, saya dengan segala kerendahan hati memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada anda.
Ya.. anda! orang yang tetap membekas dalam hati dan pikiran saya.
Anda yang tidak berani saya sapa..

Thursday, July 10, 2014

Balada memilih Presiden

Saya Yulia (24 tahun), dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, memantapkan hati dan telah menggunakan hak pilih saya pada tanggal 9 Juli 2014. Saya yang mempunyai pilihan yang berbeda dari orang tua dan orang terkasih yang notabene adalah orang Solo, memilih calon presiden nomor urut 2. Setelah berdiskusi ngalor ngidul dengan beberapa orang yang saya percaya dan berdasarkan atas apa yang benar-benar saya alami dan saya rasakan, akhirnya saya memantapkan pilihan kepada pak Jokowi.
Saya tidak memilih pak Prabowo bukan karena saya membencinya. Saya pun tidak mau ambil pusing mengenai pemberitaan yang menyebutkan beliau adalah penjahat HAM dan dalang kerusuhan Mei 1998. Semata-mata bukan ingin menutup mata, tetapi saya merasa bahwa saya tidak memiliki kapasitas untuk membahas kasus tersebut. Jika tidak bersalah, mengapa mau saja diberhentikan? bagi saya mau atau tidak mau adalah sebuah pilihan. Benar tidaknya pemberitaan tersebut, hanya Allah SWT dan pak Prabowo lah yang tahu.
Bagi saya, Pak Prabowo adalah sosok yang cerdas, tegas dan santun. Ketegasan dan kesantunannya terlihat pada saat debat capres beberapa waktu yang lalu. Tegas yang saya lihat disini, bukan hanya tegas dalam hal berbicara, tetapi beliau juga tegas dalam meyakini sesuatu yang menurut beliau bagus meskipun itu berasal dari lawan politiknya. Santun, karena beliau bukan tipe orang yang ingin menjatuhkan martabat orang lain.
Pak Prabowo adalah orang yang cerdas. Kalau tidak cerdas, mana mungkin dia menjadi orang pertama yang mensupport dan memboyong seorang Jokowi jauh-jauh dari Solo ke Jakarta untuk menjadikan nya seorang Gubernur DKI. Beliau pandai mengamati dan menganalisa orang-orang yang punya potensi dan mau bekerja sungguh-sungguh untuk menyejahterakan masyarakat. Jelas, kecerdasan beliau didapat selama terlibat di militer. Jadi, tidak ada alasan satupun bagi saya untuk menjelek-jelekkan beliau. Titik!
 
Trus mengapa pada akhirnya saya memilih pak Jokowi?

Friday, October 11, 2013

Pada akhirnya, mencari yang nyaman!


Mau menulis entah memulainya dari mana. Positif deh minggu ini adalah minggu tergalau yang pernah saya alami selama kurun waktu 6 bulan belakangan ini. Lagi dan lagi, saya harus “kehilangan” mitra, sahabat sekaligus saudara yang membuat saya amat sangat merasa nyaman berada di kota ini. Mungkin perjalanan kemarin merupakan salah satu bentuk klimaks dari kebersamaan kami selama ini. Puncak dari semua proses pemahaman yang baik, hingga akhirnya kita sampai kembali pada suatu titik bahwa semua yang ada di dunia ini pasti berotasi, pasti berganti. Tidak hanya bumi saja yang berputar, pun manusia juga akan mengalaminya.