2015... akhirnya tiba...
2014 telah berlalu dan membawa kesan yang mendalam.
Banyak hal dilalui. Tahun 2014 saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun bukan di jurusan yang sama seperti sebelumnya. 2014 juga merupakan tahun-tahun penuh pergolakan. Di tahun ini saya memutuskan untuk ikut tes CPNS di salah satu instansi. Mobilitas pun menjadi cukup tinggi di tahun ini, harus bolak-balik Dompu-Jakarta-Dompu untuk mengikuti setiap jenjang tesnya. 2014 juga merupakan tahun penuh kesedihan. Saya kehilangan teman yang sudah seperti saudara. Iya, Mbak Arie memutuskan untuk resign demi melanjutkan impian nya untuk menjadi seorang istri. Bahagia mendengarnya, namun terselip rasa sedih. Hari-hari awal kepergiannya, rasa sepi itu begitu terasa. Terkadang saya suka menangis sendiri dalam kamar kost. Memandangi setiap sudut demi sudut yang tadinya terisi oleh barang-barangnya kini menjadi kosong. Kami sudah menjalani 2 tahun 8 bulan bersama sebagai sesama perantau, membuat hubungan kami kian erat. Ini menyadarkan saya bahwa untuk kesekian kalinya saya harus kehilangan orang-orang yang ibaratnya merintis project bersama-sama dari titik nol. Hilang lagi satu penguat keberadaan saya di Dompu ini.
Ada yang pergi, ada pula yang datang. Begitulah siklus kehidupan. Muncul wajah-wajah baru maupun wajah lama dengan rasa baru. Tapi tetap saja, tidak akan sama rasanya seperti yang dulu. Aroma-aroma keberpihakan mulai tercium.. Ah,, saya muak sebenarnya berada di dalam sini. Disatu sisi begini, disisi lain begitu. Halooooo.. ini bukan tempat mencari koalisi.. tapi tempat untuk belajar menghargai. Ini membuat saya kembali berpikir dua kali. Memutuskan untuk bertahan atau pergi.
Saya benci.. dan saya ingin kembali...
Friday, January 23, 2015
Monday, August 11, 2014
Forgive me!
Masih dalam suasana Syawwal, izinkan saya mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum, Minal Aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin untuk kawan lama, teman terbaik yang pernah mewarnai hidup saya.
Saya tak pernah sedikitpun melupakan kebersamaan yang telah kita lewati bersama. Saya selalu mengingat kebaikan-kebaikan anda, meskipun rasanya tidak akan sama seperti dulu. Saya tahu, bahwa dosa saya pada anda tidak akan mungkin terlupakan oleh anda, dan mungkin hal itu membuat hati anda tersakiti.
Saya lebih memilih untuk menuliskannya disini. Di ruang yang sedari awal saya khususkan untuk berbagi semua rasa yang pernah ada, senang, bahagia, sedih, pilu, susah dsb. Saya tidak berani mengucapkan nya secara langsung karena saya takut. Takut bila nanti akan kembali melukai anda. Takut bila nanti hanya mengingatkan kembali rasa sakit yang anda alami.
Jika pun saya menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi, pun anda tidak akan lagi peduli. Namun biarlah..
Sekali lagi, saya dengan segala kerendahan hati memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada anda.
Ya.. anda! orang yang tetap membekas dalam hati dan pikiran saya.
Anda yang tidak berani saya sapa..
Saya tak pernah sedikitpun melupakan kebersamaan yang telah kita lewati bersama. Saya selalu mengingat kebaikan-kebaikan anda, meskipun rasanya tidak akan sama seperti dulu. Saya tahu, bahwa dosa saya pada anda tidak akan mungkin terlupakan oleh anda, dan mungkin hal itu membuat hati anda tersakiti.
Saya lebih memilih untuk menuliskannya disini. Di ruang yang sedari awal saya khususkan untuk berbagi semua rasa yang pernah ada, senang, bahagia, sedih, pilu, susah dsb. Saya tidak berani mengucapkan nya secara langsung karena saya takut. Takut bila nanti akan kembali melukai anda. Takut bila nanti hanya mengingatkan kembali rasa sakit yang anda alami.
Jika pun saya menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi, pun anda tidak akan lagi peduli. Namun biarlah..
Sekali lagi, saya dengan segala kerendahan hati memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada anda.
Ya.. anda! orang yang tetap membekas dalam hati dan pikiran saya.
Anda yang tidak berani saya sapa..
Thursday, July 10, 2014
Balada memilih Presiden
Saya Yulia (24 tahun), dengan mengucap
Bismillahirrohmanirrohim, memantapkan hati dan telah menggunakan hak pilih saya
pada tanggal 9 Juli 2014. Saya yang mempunyai pilihan yang berbeda dari orang
tua dan orang terkasih yang notabene adalah orang Solo, memilih calon presiden
nomor urut 2. Setelah berdiskusi ngalor ngidul dengan beberapa orang yang saya
percaya dan berdasarkan atas apa yang benar-benar saya alami dan saya rasakan,
akhirnya saya memantapkan pilihan kepada pak Jokowi.
Saya tidak memilih pak Prabowo bukan karena
saya membencinya. Saya pun tidak mau ambil pusing mengenai pemberitaan yang
menyebutkan beliau adalah penjahat HAM dan dalang kerusuhan Mei 1998.
Semata-mata bukan ingin menutup mata, tetapi saya merasa bahwa saya tidak
memiliki kapasitas untuk membahas kasus tersebut. Jika tidak bersalah, mengapa
mau saja diberhentikan? bagi saya mau atau tidak mau adalah sebuah pilihan.
Benar tidaknya pemberitaan tersebut, hanya Allah SWT dan pak Prabowo lah yang
tahu.
Bagi saya, Pak Prabowo adalah sosok yang
cerdas, tegas dan santun. Ketegasan dan kesantunannya terlihat pada saat debat
capres beberapa waktu yang lalu. Tegas yang saya lihat disini, bukan hanya
tegas dalam hal berbicara, tetapi beliau juga tegas dalam meyakini sesuatu yang
menurut beliau bagus meskipun itu berasal dari lawan politiknya. Santun, karena
beliau bukan tipe orang yang ingin menjatuhkan martabat orang lain.
Pak Prabowo adalah orang yang cerdas. Kalau
tidak cerdas, mana mungkin dia menjadi orang pertama yang mensupport dan
memboyong seorang Jokowi jauh-jauh dari Solo ke Jakarta untuk menjadikan nya
seorang Gubernur DKI. Beliau pandai mengamati dan menganalisa orang-orang yang
punya potensi dan mau bekerja sungguh-sungguh untuk menyejahterakan masyarakat.
Jelas, kecerdasan beliau didapat selama terlibat di militer. Jadi, tidak ada
alasan satupun bagi saya untuk menjelek-jelekkan beliau. Titik!
Trus mengapa pada akhirnya saya memilih pak
Jokowi?
Friday, October 11, 2013
Pada akhirnya, mencari yang nyaman!
Mau menulis entah memulainya dari mana. Positif deh minggu
ini adalah minggu tergalau yang pernah saya alami selama kurun waktu 6 bulan
belakangan ini. Lagi dan lagi, saya harus “kehilangan” mitra, sahabat sekaligus
saudara yang membuat saya amat sangat merasa nyaman berada di kota ini. Mungkin
perjalanan kemarin merupakan salah satu bentuk klimaks dari kebersamaan kami
selama ini. Puncak dari semua proses pemahaman yang baik, hingga akhirnya kita
sampai kembali pada suatu titik bahwa semua yang ada di dunia ini pasti
berotasi, pasti berganti. Tidak hanya bumi saja yang berputar, pun manusia juga
akan mengalaminya.
Subscribe to:
Posts (Atom)